Tuesday, April 9, 2013

PUPUH (Puisi lisan tradisional sunda) anu di tembangkeun.



di copas ku : Abdul Karim
Pupuh téh nya éta wangun puisi lisan tradisional Sunda (atawa, mun di Jawa, katelah ogé macapat) nu tangtu pola (jumlah engang jeung sora) kalimahna. Nalika can pati wanoh kana wangun puisi/sastra modérn, pupuh ilahar dipaké dina ngawangun wawacan atawa dangding, luyu jeung watek masing-masing pupuh nu ngawakilan kaayaan kajadian nu keur dicaritakeun. Pupuh téh kauger ku guru wilangan jeung guru lagu. Guru wilangan nyaéta patokan jumlah padalisan dina unggal pada sarta lobana engang dina unggal padalisan, sedengkeun guru lagu nyaéta patokan sora vokal dina tungtung unggal padalisan atawa dang-ding-dung-na sora vokal dina engang panungtung.
Pupuh aya tujuh welas rupa:
  • Asmarandana, ngagambarkeun rasa kabirahian, deudeuh asih, nyaah.
  • Balakbak, ngagambarkeun heureuy atawa banyol.
  • Dangdanggula, ngagambarkeun katengtreman, kawaasan, kaagungan, jeung kagumbiraan.
  • Durma, ngagambarkeun rasa ambek, gedé haté, atawa sumanget.
  • Gambuh, ngagambarkeun kasedih, kasusah, atawa kanyeri.
  • Gurisa, ngagambarkeun jelema nu ngalamun atawa malaweung.
  • Jurudemung, ngagambarkeun nu bingung, susah ku pilakueun.
  • Kinanti, ngagambarkeun nu keur kesel nungguan, deudeupeun, atawa kanyaah.
  • Lambang, ngagambarkeun nu resep banyol tapi banyol nu aya pikiraneunana.
  • Magatru, ngagambarkeun nu sedih, handeueul ku kalakuan sorangan, mapatahan.
  • Maskumambang, ngagambarkeun kanalangsaan, sedih bari ngenes haté.
  • Mijil, ngagambarkeun kasedih tapi bari gedé harepan.
  • Pangkur, ngagambarkeun rasa ambek nu kapegung, nyanghareupan tugas nu beurat.
  • Pucung, ngagambarkeun rasa ambek ka diri sorangan, atawa keuheul kulantaran teu panuju haté.
  • Sinom, ngagambarkeun kagumbiraan, kadeudeuh.
  • Wirangrong, ngagambarkeun nu kawiwirangan, éra ku polah sorangan.
  • Ladrang, ngagambarkeun nu resep banyol bari nyindiran.
Aya nu kaasup sekar ageung (wanda laguna rupa-rupa) nya éta Kinanti, Sinom, Asmarandana, jeung Dangdanggula (mindeng disingget jadi KSAD), sarta sekar alit (wanda laguna ngan sarupa) nyaéta Balakbak, Durma, Gambuh, Gurisa, Jurudemung, Lambang, Ladrang, Magatru, Maskumambang, Mijil, Pangkur, Pucung, jeung Wirangrong.

sumber :

Friday, April 5, 2013

PERSIAPAN PEMENTASAN TEATER


PERSIAPAN PEMENTASAN TEATER 
oleh Abdul Karim
 
Ini merupakan catatan singkat, yang pada teknis pelaksanaannya nanti  tak semudah menuliskan catatan ini. 

SUTRADARA
Sebagai penanggung jawab terlaksananya pementasan mulai dari pra produksi, latihan sampai ke pementasan berlangsung. Dalam kegiatan latihan sutradara mengatur waktu, memberi petunjuk, memberi pola, menyarankan, membenahi, dan memperkaya gagasan-gagasan yang tedapat di dalam naskah. Tujuannya adalah agar dihasilkan permainan drama yang baik.
Sebagai pemimpin maka sutradara dapat membagi latihan dalam beberapa tahapan, seperti berikut ini:
1.       Bedah naskah
2.       Reading
3.       Dialog
4.       Blocking
5.       Latihan lanjutan
6.       Gladi resik

1.    Bedah naskah
Pada tahap ini sutradara dan para calon pemain berkumpul untuk mengadakan kegiatan pengkajian naskah. Setiap calon pemeran dan atau pihak lain yang akan ikut serta terlibat dalam produksi pagelaran teater ini bebas mengemukakan pendapatnya tentang hasil kajiannya pada naskah yang dipilih. Bersamaan dengan kegiatan tersebut sutradara sudah mempersiapkan tentang calon pemain yang akan memerankan tokoh-tokoh yang ada pada cerita di dalam naskah tersebut. Kemampuan dasar para pemain teater dapat juga dilihat dari pengkajian naskah ini. Sutradara sendiri sesungguhnya sudah menelaah terlebih dahulu sebelum didiskusikan bersama pemain dan kru lainnya. Hal ini dilakukan adalah untuk mendengar dan mengetahui sejauh mana para calon pemain memahami dan dapat mengejawantahkan naskah yang disodorkannya.
2.    Reading
Reading (membaca) Disaat latihan membaca ini,, sang sutradara belum bisa menentukan dengan pasti pemeran dari tokoh-tokoh yang ada dalam naskah. Sutradara masih harus menelaah dan melihat untuk menguji kemampuan calon pemain dalam segala hal. Kriteria penilaian sutradara beberapa diantaranya adalah ; 
intonasi, 
vokal 
dan artikulasi.
Setelah membaca permulaan selesai biasanya sutradara sudah memiliki calon pemeran tetap untuk tokoh-tokoh ceritanya. Maka pada tahap latihan berikutnya para calon pemain akan mengulang latihan dengan cara membaca dialog yang itu-itu juga secara berulang. Latihan membaca memberi kesempatan kepada sutradara untuk membenahi intonasi, vokal, dan arikulasi para calon pemainnya.

3.    Dialog
Sebelum tahapan latihan dialog dilakukan, sutradara terlebih dahulu menunjuk dan mengumumkan kepada para aktor, siapa saja yang memerankan tokoh-tokoh yang ada pada naskah tersebut. Kemudian latihan reading diulang beberapa kali sampai para aktor hapal dan mampu melakukan dialog-dialog dengan melepas naskah dengan meningkatkan kemapuannya mengejawantahkan naskah lewat ekspresi para pemeran.
4.    Blocking
Langkah latihan pada tahap ini adalah kelanjutan dari latihan dialog, yang menjadi tugas aktor untuk mengembangkanya dibawah bimbingan sutradara. Para pemain sudah mulai akting, yaitu mengekspresikan dialognya dengan disertai gerakan dan perpindahan tempat yang akan dilakukan diatas panggung teater nantinya. Setiap pemain harus mengingat dan memantapkan setiap gerak dan langkah sendiri dan blocking dari lawan mainnya. Karena setiap pemain harus responsif pada pemeran tokoh lainnya yang sedang berakting.  Bila dalam tahap lepas naskah ini pemain lupa akan dialog maka akan diingatkan oleh sutradara atau pemain lainnya.  
5.    Latihan lanjutan
Latihan lanjutan juga bisa disebut dengan latihan  inti atau pemantapan dari latihan-latihan dasar para aktor. Pada tahapan ini biasanya sutradara mengembangkanya dengan melengkapi pendukung-pendukung latihan yang akan digunakan dalam pagelaran teater nantinya. Pendukung-pendukung tersebut adalah sebagai pelengkapan pagelaran yang diantaranya terdiri dari : Property (yaitu alat sebagai pelengkapan peranan si aktor) dan setting (yaitu peralatan diatas panggung yang juga menggambarkan tempat belangsungnya cerita, mis; meubeler).
Latihan ini berlanjut sampai melibatkan para pendukung pagelaran lainnya, yaitu, para pemain musik, penata artistik dan kru-kru lainnya. Sampai tahap ini biasanya sutradara juga sudah harus mempersiapkan dan menargetkan kapan waktunya untuk gladyresik.
6.     Glagy resik
Termasuk pada latihan tahap akhir yang sudah melibatkan seluruh bentuk pementasan seutuhnya. Dalam tahap ini semua pihak khususnya pemain harus siap sebagaimana mestinya pada saat pagelaran nanti. Hal ini dilakukan dalam waktu sedikitnya 1 hari menjelang hari H pagelaran. Disaat inilah sang sutradara berkesempatan untuk menyaksikan hasil kerjanya selama latihan. Dan sebagai bahan evaluasi agar pagelaran teater yang berlangsung di depan penonton lainnya. Sehingga di saat ini sutradara masih bisa memberikan masukan sebagai koreksi apabila ada kekurangan pada semua kru khususnya bagi para aktor.


7.      7.   Pagelaran
Pada saat pagelaran berlangsung sutradara sudah kehilangan wewenang untuk mengubah atau memperbaiki permainan. Baik tidaknya sebuah pemainan disaat pagelaran sudah berlangsung di depan penonton adalah menjadi kuasa penuh para pemain yang didukung kru saat itu.
Sutradara sebagai pimpinan permainan sudah bersifat pasif saat ini. Dan bahkan sudah berbaur di depan panggung pertunjukan dan duduk sebagai penonton. Oleh karena itu seluruh pemain dan kru harus sudah benar-benar siap seratus persen.
Adapun evaluasi bisa dilakukan sutradara kepada pemain dan kru yang dilakukan setelah pagelaran berakhir, adalah bermaksud untuk perbaikan dan peningkatan kwalitas pagelaran berikutnya. 

Semoga tulisan ini bisa membantu kepada para sutradara, pelatih seni, guru dan semua pihak yang memerlukannya. 
 

SRANGENGE CINTA AKANG


Srangenge cinta akang

karyana Abdul Karim


Asih geus kapanggih
moal leungit deui
nyaah geus karasa
moal rek sirna

Pait amis kahirupan
kaalaman kuurang duaan
ti bihari mangsa lalagasan
ka kiwari geus baranahan.

Memang, cinta teu salawasna endah, nung.
Kapanan langit oge rajeun kulawu
tapi beurang tetep bakal datang
sabab srangenge satia nyaangan nung,
srangenge teh cinta nu akang

Monday, April 1, 2013

Kabisa Seni: PERAN PENDIDIKAN SENI ANAK-ANAK USIA SEKOLAH

Kabisa Seni: PERAN PENDIDIKAN SENI ANAK-ANAK USIA SEKOLAH: Pendidikan seni di sekolah tidak bertujuan untuk menjadikan anak didik seorang seniman. Peran pendidikan seni sejatinya adalah menggali, mengolah dan mengembangkan berbagai kecerdasan dan karakter anak didik secara integral berbasis pada pendidikan multidimensional, multibahasa dan multi budaya.




KARENA MODAL RENCANA MENIKAH GAGAL??

Dalam tulisan saya sebelumnya d i    https://kabisaseni.blogspot.com/2020/01/good-bye-lajang-aku-mau-nikah-sekarang.html sudah kita ketah...