17 sekar pupuh

Jumat, 26 Juli 2013

Malem lilikuran, MALEMAN ITUNGAN GANJIL di Bulan Puasa

Ayeuna geus nincak malem ka tujuh welas.
Jadi inget mangsa keur budak baheula. Aya sepuh nu sasauran :
"Tah, barudak, sakeudeung deui malem lilikuran. Loba Abdul Malem geura", saurna.
Harita mah ngahuleng, teu ngarti !
Naon maksad anjeunna, nyebat 'Abdul Malem'.
Kakara kaharti basa nepi kana malem salikur. Satutasna tarawéh, di masigit téh loba nu ngirim dahareun. Aya dupi, aya kupat keupeul, aya ranginang, opak, jeung sajabana ti éta. Euyeub nu puguh mah.
Jeung, ditempo-tempo, nu tarawéh téh ngalobaan. Da, kamari-kamarina mah tara nempo si akang éta, si emang éta, si bapa itu.
Heuheuy..... deuh, kakara apal. Geuning hartina "Abdul Malem" téh sing saha waé jalma anu ngahaja tarawéh ka masigit lamun mangsana geus malem lilikuran, bari di masigitna loba nu ngirim dahareun.
sumber Facebookna Oerang Soenda

NGABUBURIT DI BANDUNG

FOTO news.detik.com
Bandung punya cukup banyak tempat untuk ngabuburit. Alun-alun Bandung adalah lokasi favorit di pusat kota. Maklum, lokasinya gampang dicapai karena dekat dengan halte transit sejumlah rute angkutan umum. Apalagi, tak jauh dari sana ada Masjid Raya Bandung.

Di sekitarnya juga berderet pusat belanja yang melayani berbagai keperluan warga. Dari Jalan Dewi Sartika, Kepatihan, hingga Dalem Kaum dipenuhi pedagang. Di sisi jalan, puluhan pedagang kaki lima menjajakan aneka jenis minuman dan makanan, seperti es kelapa, kolak, asinan, gorengan, kue-kue, bakso, dan batagor, siap memanjakan lidah. Makanan berat pun tersedia.

Untuk para bocah, banyak pilihan permainan. Beberapa keluarga, pada Jumat pekan lalu, misalnya, memanjakan buah hatinya dengan membiarkan mereka naik kereta api gerbong mini. Sebagian anak lainnya memilih sepeda motor dan mobil kecil.

Bagi yang ingin sekadar duduk-duduk, ada kursi taman yang dinaungi pepohonan. Sebagian memilih rehat di selasar masjid sambil membaca atau mendengarkan alunan ayat suci Al-Quran.

Para pelajar biasanya memilih mengunjungi menara yang mengapit masjid. Menara utara, yang terletak di dekat Jalan Asia-Afrika, khusus dibuka pada Sabtu dan Ahad. Sedangkan menara selatan hanya dipakai dari Senin sampai Jumat. Jam bukanya dari pukul 9 pagi hingga 5 sore.

Dari menara setinggi 19 lantai itu terhampar pemandangan Kota Bandung ke segala arah. Jika cuaca sedang cerah, panorama yang tersaji sangat mengesankan. Daya tampung di puncak menara adalah 70 orang. Setiap pengunjung hanya punya kesempatan selama 15 menit untuk memanjakan pandangannya.

Harga tiket untuk naik ke menara pun terjangkau kantong. Turis asing dikenai tarif Rp 5.000, pengunjung dewasa Rp 3.000, serta balita hingga SD cukup Rp 2.000. "Di menara selatan rata-rata pengunjung berkisar 150-200 orang per hari," kata petugas Irwan Sujana.

Pilihan ngabuburit lain adalah lapangan Tegalega. Di sini pengunjung senang menikmati suasana taman yang rindang. Keteduhan itu datang dari pepohonan yang ditanam para kepala negara serta perdana menteri negara peserta peringatan 50 tahun Konferensi Asia-Afrika pada 24 April 2005. Mulai mahoni, tanjung, bintaro, asam kranji, hingga tabula bersatu menciptakan kehijauan yang menyejukkan. Di sinilah beragam aktivitas dilakukan pengunjung: joging, bersepeda, atau berlatih sepak bola.

Adapun di lapangan Gasibu, yang berada di seberang Gedung Sate, anak-anak muda biasanya suka berkumpul hingga ke utara, yakni Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat. Jika tak hujan, mereka kerap duduk-duduk di tangga lapangan Gasibu dan monumen atau menonton aksi ketangkasan bersepeda motor.

Begitu waktu berbuka tiba, mereka akan menyebar ke beberapa lokasi wisata kuliner, seperti di Jalan Cisangkuy hingga Cimandiri sampai sekitar Jalan Dipati Ukur.

ANWAR SISWADI

dicopas ti www.tempo.com Bandung